Logo GNFI
Anggrek Indonesia

ANGGREK
INDONESIA:

Bunga Penuh Pesona,
Alat Diplomasi Antarbangsa

Anggrek bukan sekadar tumbuhan. Ia hidup di tengah masyarakat tidak hanya berdiri dengan batang, kelopak, dan daun-daunnya, melainkan menyatu dengan kehidupan masyarakat Nusantara dengan menempati posisi istimewa.

Posisi istimewa yang dimaksud adalah soal bagaimana anggrek dianggap punya makna yang begitu mendalam. Banyak yang menjadikan anggrek sebagai simbol atas keindahan, kesuburan, dan cinta.

Di Indonesia, ada satu produk budaya yang amat lekat dengan anggrek dan segala makna yang melekat padanya. Apa itu?

Jawabannya adalah batik.

Ya, ternyata ada motif-motif batik yang menggunakan anggrek sebagai elemen visualnya. Tentu bukan tanpa alasan, karena setiap motif batik atau kain tradisional Nusantara memang selalu punya cerita masing-masing di baliknya.

Batik yang menggunakan anggrek sebagai motifnya ternyata ada lebih dari satu. Beberapa di antaranya pernah dibahas oleh Rahmad Agus Triyanto dari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta lewat publikasi ilmiahnya yang berjudul “Bunga Anggrek sebagai Dasar Penciptaan Motif Batik Busana Wanita”.

Motif pertama adalah Anggrek Mekar, yang menampilkan dua bunga anggrek besar sebagai pusat perhatian dengan hiasan sulur di sekelilingnya. Batik ini menggunakan gradasi warna merah muda yang melambangkan romantisme dan merah tua yang menggambarkan kepercayaan diri. Dengan latar belakang hitam yang dramatis, batik ini dirancang untuk acara non-formal pada siang hari karena perpaduan warnanya yang tidak terlalu mencolok tapi tetap indah.

Selanjutnya, terdapat motif Anggrek Kawur yang disusun secara repetitif baik horizontal maupun vertikal. Motif ini menggambarkan bunga anggrek yang mekar seolah jatuh dari pohonnya, dilengkapi isen-isen kecil untuk mengisi ruang kain. Perpaduan warna merah tua, kuning, dan latar biru tua memberikan kesan berani, ceria, sekaligus penuh keyakinan. Karena tampilannya yang elegan, batik Anggrek Kawur sangat ideal digunakan untuk acara formal seperti pesta pernikahan.

Karya ketiga adalah Anggrek Godongan yang menonjolkan harmoni antara bunga dan daun-daun kecil. Motif ini mengusung kesan natural dan sejuk bagi pemakainya. Penggunaan latar cokelat tua memberikan makna kesederhanaan dan kehangatan, sementara gradasi kuning pada motif utama melambangkan kegembiraan. Perpaduan ini menciptakan busana yang tampak bersahaja tapi tetap memancarkan aura elegan.

Selain ketiganya, masih ada beberapa motif batik lagi yang diketahui menggunakan anggrek sebagai motifnya. Perlu diketahui juga, pemaknaan spesial atas anggrek tidak hanya hadir dalam wujud batik, ada pula hal lainnya, misalnya ikon daerah.

Kota Tangerang Selatan menjadikan anggrek sebagai ikon resmi dan kebanggaan Kota Tangerang Selatan, khususnya jenis Vanda Douglas. Anggrek mencerminkan keindahan, semangat, dan sifat tangguh masyarakat Tangerang Selatan.

"Sebagai wali kota, saya merasa sangat bangga bahwa anggrek telah menjadi ikon Kota Tangerang Selatan, bahkan dalam beberapa desain batik Khas Tangerang Selatan selalu mendasarkan kepada anggrek."

Walikota
Tangerang Selatan,
Benyamin Davnie

(4 Desember 2024)

Walikota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie

Kota yang bertetangga dengan Jakarta itu memang dikenal sebagai sentra budidaya anggrek, bahkan pernah pula menjadi pusat budidaya anggrek terbesar di Indonesia. Budidaya anggrek itu banyak dijumpai di sejumlah kecamatan seperti Ciputat, Serpong, dan Pamulang.

Keanekaragaman Anggrek Indonesia

Indonesia punya keanekaragaman anggrek yang begitu tinggi. Sayangnya, per Agustus 2024, baru sekitar 230 spesies anggrek Indonesia yang telah dievaluasi status konservasinya oleh IUCN. Itu setara 5–6 persen dari total spesies anggrek nasional. Fakta ini disampaikan langsung oleh Destario Metusala, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE) BRIN.

Flower purple

Keanekaragaman
Anggrek Indonesia

Indonesia termasuk negara dengan keanekaragaman anggrek tertinggi di dunia, bahkan kerap disebut sebagai yang terbesar secara jumlah spesies.

Rangkaian anggrek krem merah muda

Indonesia
punya sekitar

4.100-
4.200

spesies anggrek

Bentuknya beragam,mulai dari yangtumbuh menempel dibatang pohon, hidupdi tanah, hingga yangberukuran sangat kecildan nyaris tak terlihatjika tidak diperhatikandengan saksama.

Anggrek kuning berbintik

Menariknya pada periode 2024-2025, sejumlah penemuan anggrek baru muncul dari kawasan Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Wow!

Rinciannya; 19 spesies anggrek Indonesia masuk kategori Critically Endangered (Kritis), 18 spesies masuk kategori Endangered (Genting), 10 spesies masuk kategori Vulnerable (Rentan), 5 spesies masuk kategori Near Threatened (Hampir Terancam), dan 178 spesies masuk kategori Least Concern (Risiko Rendah).

Sebagai respons kondisi tersebut, pemerintah menetapkan 29 jenis anggrek berstatus dilindungi melalui PP Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Beberapa jenis anggrek di antaranya: Cymbidium hartinahianum (Anggrek Tien Soeharto atau biasa disebut dengan Anggrek Hartinah), Coelogyne pandurata (anggrek hitam), Grammatophyllum speciosum (anggrek tebu), Paphiopedilum chamberlainianum (anggrek kasut kumis), dan Phalaenopsis gigantea (anggrek bulan raksasa).

Jika harus menunjuk satu kelompok anggrek yang merepresentasikan kekhasan wilayah Indonesia, Dendrobium section Spatulata layak disebut. Kelompok ini sering juga disebut kelompok anggrek tanduk rusa karena bentuk petalnya yang terpilin atau melebar seperti spatula.

Dari sekitar 70 spesies Dendrobium Spatulata di dunia, pusat keragamannya berada di Indonesia bagian timur, terutama Papua dan Maluku.

Genus Dendrobium sendiri sudah lama populer sebagai anggrek hias. Namun Spatulata memiliki ciri khas bentuk bunga dan adaptasi ekologis yang unik. Ini yang membedakan jenis anggrek Indonesia dengan wilayah lain.

Menariknya, tren pemanfaatan anggrek kini tidak lagi bertumpu pada bunga saja. Daun dan bentuk tubuh tanaman (habitus) justru mulai dilirik.

Salah satu kelompok yang sedang naik daun adalah jewel orchid atau anggrek permata. Ini adalah anggrek yang keindahannya terletak pada pola daun, bukan bunga.

Selain itu, ada pula Macodes petola, Anoectochilus reinwardtii, Ludisia discolor. Ketiganya merupakan anggrek terestrial, yakni anggrek yang hidup di tanah. Daunnya berkilau, berpola urat emas atau perak, dan sering tumbuh di lantai hutan yang lembab.

Pada periode 2024–2025, sejumlah penemuan anggrek baru muncul dari kawasan Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.

Pada Juli 2024 misalnya, tim ekspedisi keanekaragaman hayati Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) melakukan eksplorasi di Gunung Bukit Raya, Kalimantan. Di ketinggian sekitar 1.320 meter di atas permukaan laut inilah mereka menemukan satu spesies anggrek yang belum pernah dideskripsikan sebelumnya.

Anggrek ini berasal dari genus Bulbophyllum, salah satu genus anggrek terbesar di dunia. Penemuan tersebut kemudian melalui proses identifikasi ilmiah dan resmi dipublikasikan pada 9 Mei 2025 di jurnal internasional dengan nama Bulbophyllum bukitrayaense. Nama ini diambil dari lokasi penemuannya, sebagai bentuk penghormatan terhadap Bukit Raya.

Genus Bulbophyllum Thouars terdiri dari sekitar 2.000 spesies dan dikenal sebagai salah satu genus tumbuhan paling beragam di dunia. Kalimantan menjadi salah satu pusat keanekaragamannya, dengan hampir 300 spesies Bulbophyllum telah tercatat.

Data ini menguat setelah terbitnya monografi Bulbophyllum of Borneo, yang mendorong eksplorasi lanjutan dan membuka jalan bagi penemuan taksa baru.

Ini menegaskan bahwa Kalimantan masih menyimpan banyak spesies yang belum tercatat secara ilmiah.

Sementara di Sulawesi Utara, peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Destario Metusala, berhasil mengidentifikasi spesies baru anggrek dari genus Aerides, yang dikenal hobiis sebagai anggrek kuku macan.

Spesies baru ini dipublikasikan pada Mei 2024 dalam jurnal Edinburgh Journal of Botany dengan nama Aerides obyrneana. Sebelum penemuan ini, hanya lima spesies Aerides yang tercatat dari Indonesia. Di antaranya: Aerides odorata yang tersebar luas; Aerides timorana dari Nusa Tenggara serta tiga spesies endemik Sulawesi, yakni A. huttonii, A. inflexa, dan A. thibautiana.

Aerides obyrneana menambah daftar endemik Sulawesi. Destario menjelaskan bahwa spesies ini memiliki kombinasi warna bunga yang jarang ditemukan pada genusnya.

“Sepal dan petalnya berwarna putih keunguan dengan bibir bunga berwarna kuning cerah kehijauan,” ujar Destario.

Epithet obyrneana diambil dari nama Peter O’Byrne, pemerhati anggrek dan penulis referensi taksonomi anggrek Asia Tenggara.

“Ia juga sosok yang pertama kali mengajarkan taksonomi anggrek secara mendalam kepada saya,” lanjut Destario.

Habitat alami anggrek ini berada di tepian hutan semi-terbuka dengan intensitas cahaya 50–70 persen. Morfologi daunnya menunjukkan adaptasi pada kondisi kelembaban rendah dan cahaya tinggi.

Permukaan daun berkutikula tebal. Ini berfungsi menekan penguapan air dan membantu tanaman bertahan pada musim kering.

Dua spesies anggrek baru dari Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat Daya, resmi diperkenalkan ke dunia ilmu pengetahuan. Keduanya diberi nama Dendrobium siculiforme dan Bulbophyllum ewamiyiuu, serta telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Telopea edisi Agustus 2025.

Kedua spesies ini berawal dari kegiatan inventarisasi tumbuhan di Pulau Batanta pada 2022 yang dilakukan Balai Besar KSDA Papua Barat bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Saat survei berlangsung, tim mengoleksi berbagai anggrek alam dan mencatat pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat setempat.

Dendrobium siculiforme merupakan anggrek epifit dengan batang tegak setinggi 15–50 sentimeter. Bunganya muncul dari bagian atas batang, berjumlah sekitar enam kuntum, dengan diameter mencapai 7 sentimeter saat mekar. Warna bunganya krem kekuningan dengan guratan cokelat keunguan.

Nama siculiforme diambil dari bahasa Latin yang berarti berbentuk belati, merujuk pada cuping tengah bibir bunganya yang runcing. Spesies ini mirip dengan Dendrobium magistratus, tetapi berbeda pada bentuk perbungaan, sepal, dan bibir bunganya.

Sementara itu, Bulbophyllum ewamiyiuu berukuran jauh lebih kecil, hanya sekitar 8–12 sentimeter. Setiap pseudobulb—batang semu penyimpan cadangan air—memiliki satu helai daun. Bunganya berukuran 5–6 milimeter, dengan warna dasar kuning dan semburat merah marun.

Nama ewamiyiuu diambil dari bahasa Batta milik masyarakat Suku Batanta yang berarti bergaris, mengacu pada garis kecokelatan pada pseudobulb. Anggrek ini memiliki kemiripan dengan Bulbophyllum graciliscapum, tetapi berbeda pada bentuk pseudobulb, sepal, dan ornamen bibir bunga.

Berdasarkan data sebaran yang sangat terbatas, kedua anggrek ini diyakini endemik Raja Ampat. Tim peneliti mengusulkan Dendrobium siculiforme berstatus kritis (critically endangered), sementara Bulbophyllum ewamiyiuu masuk kategori kekurangan data (data deficient) menurut kriteria Daftar Merah IUCN.

Penemuan ini tidak hanya menambah daftar spesies anggrek Indonesia, tetapi juga menegaskan pentingnya riset jangka panjang dan perlindungan hutan Papua sebagai pusat keanekaragaman genetik dunia.

Pesona Anggrek Indonesia di Festival

Pesona anggrek memang tiada dua terlebih bagi para penggemarnya. Ragam corak, rupa, dan aroma membuat daya pikatnya sering dipamerkan dalam gelaran festival dengan berbagai tingkatan, dari regional, nasional, hingga internasional.

Di Indonesia sendiri acara semacam itu sudah ada sejak era kolonial Belanda. Contohnya pada 1930-an, pameran anggrek sering diadakan di tempat digelarnya perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina yaitu Pasar Gambir, Batavia (kini Jakarta). Pada 3 September 1936 misalnya, surat kabar Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie mengabarkan kepada pencinta anggrek agar datang ke Pasar Gambir karena ada sejumlah anggrek spesies langka dipamerkan salah satunya anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis).

Selain dipamerkan, ada kalanya festival anggrek mengadakan perlombaan. Majalah Kajawen edisi 5 September 1936 mengabarkan keseruan pameran anggrek di Pasar Gambir pada tahun tersebut memunculkan pemenang dari lomba perawatan anggrek jatuh kepada Tuan Khoe May Seng.

Festival anggrek tetap ada dan berkembang setelah Indonesia lepas dari penjajahan. Di alam merdeka, Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) yang berdiri sejak 1956 giat mengadakan festival di banyak tempat di tanah air. Salah satunya di Surabaya pada 18 Agustus 1959, di mana saat itu untuk pertama kalinya mereka menggelar kuliah dan jual-beli anggrek kepada para pengunjung.

Pesona Anggrek Indonesia di Festival

Anggrek Indonesia memesona di festival berskala regional, nasional, hingga internasional.

Anggrek
Jamu

Salah satu pencapaian terbaik ialah pada 1980 di mana rangkaian anggrek buatan kelompok Mayasari, Yogyakarta menjuarai "Monte Carlo Flora 1980" di Monako.

Popularitas anggrek yang kian meningkat membuat Indonesia semakin berani mempromosikan anggrek lokal ke festival berskala internasional. Hasilnya pun terbilang sukses karena beberapa kali anggrek Indonesia mendapat perhatian akan keindahannya. Contohnya terjadi saat perwakilan Indonesia menjuarai festival anggrek bertajuk “Monte Carlo Flora 1980” di Monako. Kala itu janur dengan rangkaian bunga anggrek karya kelompok Mayasari dari Yogyakarta yang dipimpin Suliantoro Sulaiman sukses menyabet gelar juara umum ajang tersebut.

Anggrek semakin mendapat tempat di hati banyak orang termasuk pemerintah masa Orde Baru. Dari banyak tokoh, istri Presiden RI kedua Suharto, Siti “Tien” Hartinah menjadi salah satu yang paling serius menyebarluaskan semangat produksi, pemeliharaan, dan pemasaran anggrek dalam negeri. Dalam sebuah agenda konferensi internasional, Asia Pacific Orchid Conference (APOC) II di Makassar pada 1986, ia pernah menyuarakan anggrek memiliki prospek cerah di masa mendatang karena terbantu iklim dan kesuburan tanah di Indonesia.

“Karena itu, anggrek perlu dimasyarakatkan agar manusia makin menikmati keindahannya,” kata Tien, dikutip Good News From Indonesia dari artikel koran Harian Fajar terbitan 11 April 1986.

Setelah Orde Baru habis dan berganti ke era Reformasi, kecintaan bangsa Indonesia terhadap anggrek tidaklah pudar ditelan zaman. Buktinya dalam sepuluh tahun terakhir festival-festival anggrek bertebaran di banyak provinsi. Tidak sekadar diperlombakan, dipamerkan, dan dijajakan tapi harapannya dari festival seperti inilah anggrek bisa membantu mempromosikan wisata berkelanjutan di Indonesia.

Mewangi sebagai Alat Diplomasi

Mewangi Sebagai Alat Diplomasi

Tidak hanya visualnya yang menawan, anggrek juga bisa berperan sebagai simbol persahabatan. Di balik kecantikannya, anggrek menjadi contoh bagaimana soft diplomacy bekerja, tanpa ada pidato panjang atau perjanjian resmi tertulis.

Keterlibatan anggrek dalam urusan politik luar negeri Indonesia bukanlah hal baru. Dari era Sukarno hingga Prabowo, anggrek kerap hadir sebagai alat diplomasi untuk mempererat pertemanan anternagara.

Pada awal tahun 1962 Kaisar Jepang Akihito bersama permaisurinya Michiko Shoda pernah mengunjungi Indonesia. Oleh pemerintah Indonesia, keduanya diperkenalkan tradisi dan budaya khas nusantara termasuk kain batik. Anggrek lokal pun tak ketinggalan dihadirkan saat Akihito dan Michiko menjadi tamu di Istana Negara. Sukarno bahkan mengabadikan nama Michiko ke salah satu anggrek baru hasil persilangan.

Kisah yang tak kalah beken mengenai anggrek sebagai alat diplomasi terjadi juga pada 1965 saat founding father Korea Utara sekaligus sobat karib Sukarno, Kim Jong-il datang berkunjung.

Kim saat itu hadir di Indonesia untuk memperingati 10 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA). Dalam agenda kenegaraan itu, Kim diajak berkeliling di Kebun Raya Bogor oleh Sukarno.

Di tengah acara, mata Kim dibuat terkesima dengan keanggunan bunga berwarna ungu yang menjuntai dengan indahnya. Melihat hal tersebut, Sukarno kemudian menghadiahkan anggrek itu kepada Kim sebagai kado ulang tahun.

Kim sempat menolak hadiah itu. Namun, setelah diyakinkan oleh Sukarno, akhirnya ia mau menerimanya. Bunga anggrek itu pun diberi nama Kimilsungia.

Sampai akhir 1970-an, anggrek Kimilsungia gencar dibudidayakan para ahli botani. Bahkan, kembang cantik simbol persahabatan dua negara tersebut menyebar di berbagai penjuru di Korea Utara. Saking ikoniknya, anggrek Kimilsungia dijuluki sebagai ‘bunga abadi’ yang menyimbolkan keabadian Kim Il-sung sebagai Presiden pertama Korea Utara.

Pemerintah Korea Utara juga membuat sebuah festival khusus yang diselenggarakan tiap bulan April—bulan kelahiran Kim Il-sung—sejak tahun 1999. Saat festival, ribuan tangkai anggrek Kimilsungia akan dipamerkan kepada tamu-tamu undangan.

Selain Kimilsungia, ada pula Dendrobium Iriana Jokowi yang menjadi simbol persahabatan Indonesia dan Singapura. Varietas anggrek yang merupakan perpaduan Dendrobium Christabella dan Dendrobium Haldis Morterud itu diberi nama oleh Iriana Jokowi, istri Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.

Penamaan tersebut dilakukan Iriana dan Jokowi melakukan kunjungan kenegaraan di Singapura pada 29 Juni 2015. Bunga ini dibudidayakan di Singapore Botanic Gardens.

Momen istimewa lain yang terekam adalah saat kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto di Singapura pada 16 Juni 2025 lalu. Pada kesempatan itu, Presiden menamai sebuah anggrek berwarna merah muda tersebut dengan Paraphalante Dora Siregar Soemitro.

Pemberian nama ini menjadi semakin istimewa karena diambil dari nama mendiang ibunya, Dora Siregar Soemitro. Penamaan anggrek tersebut tidak hanya bermakna personal, tetapi juga sarat dengan simbol kedekatan diplomatik antara Indonesia dan Singapura.

Menariknya, Singapura memang menjadikan anggrek sebagai alat diplomasi andalan. Singapura memiliki tradisi yang disebut dengan Singapore Orchid Diplomacy, yaitu penamaan varietas anggrek untuk menghormati tamu kenegaraan.

Di ranah politik domestik, anggrek tak luput dari sorotan. Aksi berkirim anggrek pernah dilakukan oleh Megawati Soekarnoputri dan Prabowo Subianto pada Oktober 2025. Dua tokoh publik ini dikatakan sama-sama menyukai anggrek, sehingga pemberian anggrek dianggap sebagai simbol persahabatan Megawati dan Prabowo yang sudah terjalin sejak lama.

Di balik keanggunannya, anggrek memiliki nilai ilmiah dan menjadi kebanggaan nasional. Tahun 2024, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sukses mempublikasikan spesies baru anggrek kuku macan yang disebut-sebut menjadi salah satu yang paling indah di Indonesia.

Luar biasanya lagi, penelitian anggrek yang diberi nama Aerides obyrneana itu juga dipublikasikan di Edinburg Journal of Botany sebagai spesies baru endemik Sulawesi. Hal ini membuktikan betapa kayanya biodiversitas Indonesia sekaligus menguatkan posisi anggrek sebagai aset diplomasi sains dan lingkungan.

Kembang Kempis Pasar Ekspor Anggrek Indonesia

Permintaan tanaman anggrek di Indonesia menunjukkan tren yang semakin positif. Tak hanya diminati pasar domestik, peluang ekspor anggrek ke berbagai negara juga makin terbuka lebar. Kondisi ini mendorong pelaku usaha, dari skala kecil hingga besar, semakin antusias mengembangkan bisnis anggrek, baik untuk segmen pasar tradisional maupun premium.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah oleh Goodstats, anggrek tercatat sebagai salah satu tanaman hias paling banyak dibudidayakan di Indonesia. Tanaman ini menempati peringkat lima dengan luas area budidaya mencapai 577,8 ribu meter persegi, menandakan tingginya minat dan potensi ekonominya.

Tingginya angka budidaya tersebut tidak terlepas dari kekayaan sumber daya hayati Indonesia. BRIN mencatat Indonesia memiliki sekitar 5.000 jenis anggrek, menjadikannya salah satu negara dengan keanekaragaman plasma nutfah anggrek terbesar di dunia. Modal biologis ini menjadi keunggulan strategis dalam pengembangan industri anggrek nasional.

Melihat potensi tersebut, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura terus mendorong pelaku usaha anggrek untuk memperluas pasar, khususnya ke sektor ekspor. Nilai jual anggrek yang tergolong tinggi—karena masuk kategori produk estetika—membuka peluang besar untuk meningkatkan devisa negara.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto, menegaskan bahwa kekayaan plasma nutfah anggrek menjadi kekuatan utama Indonesia. Dengan pengelolaan yang tepat, Indonesia berpeluang menjadi pemasok anggrek yang diperhitungkan di pasar global.

“Nah, negeri kita punya plasma nutfah anggrek yang besar. Indonesia bisa menjadi pemasok anggrek yang diperhitungkan di pasar dunia,” ujar Dirjen Hortikultura, Prihasto Setyanto yang dimuat dari website Kementan.

Daya tarik bunga anggrek sendiri memang tidak lekang oleh waktu. Keindahan bentuk, variasi warna, ukuran, serta coraknya membuat anggrek selalu diminati konsumen. Tak heran jika anggrek kerap digunakan dalam berbagai momen penting, mulai dari pernikahan, upacara keagamaan, acara seremonial, hingga dekorasi rumah.

Selain itu, anggrek spesies juga berperan penting sebagai bahan dasar persilangan untuk menghasilkan varietas hibrida bernilai ekonomi tinggi. Bahkan, banyak anggrek Indonesia yang telah didaftarkan oleh pelaku usaha ke Royal Horticultural Society, organisasi internasional terkemuka di bidang hortikultura.

“Tidak kalah pentingnya, anggrek Indonesia sudah banyak didaftarkan oleh pelaku usaha di Royal Horticultural Society. Royal Horticultural Society adalah organisasi internasional khususnya untuk bunga,”

Potensi keuntungan bisnis anggrek juga dirasakan langsung oleh para pelaku usaha. Manajer PT Melrimba Sentra Agrotama, Hadi Hidayat, menyebutkan bahwa satu polybag anggrek dapat dijual dengan harga Rp100 ribu hingga Rp180 ribu, tergantung jumlah dan ukuran bunga.

Menurut Hadi, salah satu jenis anggrek yang paling diminati pasar adalah Dendrobium, yang umumnya digunakan sebagai bunga potong. Selain populer di kalangan kolektor, dendrobium juga memiliki siklus produksi yang relatif cepat.

“Bisnis bunga di Indonesia terus berkembang. Permintaan pasar lokal tinggi dan mampu memberikan keuntungan yang menjanjikan,” ujarnya.

Data Direktorat Jenderal Hortikultura menunjukkan, pada tahun 2018 tercatat penerbitan lebih dari 160 ribu batang Surat Izin Pengeluaran (SIP) benih anggrek. Sementara pada 2019, jumlahnya mencapai sekitar 70 ribu batang, dengan tujuan ekspor antara lain Jepang, Tiongkok, Taiwan, dan Thailand.

Pelaku usaha lainnya, Dedek Setia Santoso, menilai bisnis anggrek memiliki prospek cerah karena peluang ekspor masih sangat luas, sementara jumlah peminatnya terus bertambah dari tahun ke tahun. Ia menekankan pentingnya dukungan regulasi agar ekspor anggrek dapat berjalan lebih optimal.

Hal ini terbukti pada tahun 2024, ketika Bea Cukai Malang melepas ekspor 413 batang tanaman anggrek ke Amerika Serikat dengan nilai total 6.541 dolar AS atau setara Rp100,26 juta. Ekspor tersebut dilakukan oleh BUM Desa bersama Singosari, setelah sebelumnya berhasil menembus pasar Taiwan.

Kepala Seksi Penyuluhan dan Layanan Informasi Bea Cukai Malang, Dwi Prasetyo, menyebut keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi lintas kementerian dan lembaga. Ia menilai potensi tanaman hias di wilayah Malang Raya sangat besar untuk dikembangkan ke pasar internasional.

Bisnis AnggrekDinilai Menjanjikan

Pemikiran bahwa bisnis anggrek menjanjikan sudah ada sejak masa Orde Baru atau tepatnya pada 1986. Menurut Menteri Lingkungan Hidup saat itu, Emil Salim, anggrek bisa menjadi komoditas non-migas menjanjikan untuk diekspor.

Sesuai visi Emil, anggrek pun kini terbukti memiliki prospek cerah. Contohnya pada 2019, jumlah pengiriman anggrek ke pasar internasional mencapai sekitar 70 ribu batang, dengan tujuan ekspor antara lain Jepang, Tiongkok, Taiwan, dan Thailand.

Bertambahnya pasar ekspor bunga anggrek diharapkan dapat menghadirkan nilai tambah perekonomian masyarakat dan memacu penjual lain untuk merealisasikan ekspornya,” pungkasnya.

Meski peluang pasar anggrek cukup luas, pelaku budidaya di Indonesia masih menghadapi tantangan, terutama dari masuknya bibit anggrek asal Thailand dan Taiwan. Untuk itu, inovasi dan riset menjadi kunci agar anggrek lokal mampu bersaing secara global.

Peneliti PRHP BRIN, Dedeh Siti Badriah, menekankan pentingnya inovasi varietas, salah satunya melalui pengembangan anggrek Phalaenopsis. Jenis ini mendominasi sekitar 75 persen pasar anggrek dunia, sehingga memiliki nilai strategis tinggi.

Phalaenopsis tipe baru yang dikembangkan diarahkan untuk segmen penghobi dan pemulia anggrek. Salah satu keunggulannya terletak pada karakter visual, seperti munculnya bercak besar dengan warna kontras yang menyatu pada dasar bunga, khususnya pada tipe Harlequin.

Pengembangan hibrida lokal diharapkan mampu mengurangi ketergantungan impor benih, sekaligus menggerakkan industri perbenihan dalam negeri yang berdampak langsung pada ekonomi nasional.

Sejalan dengan itu, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Puji Lestari, berharap riset dan inovasi anggrek dapat memperkuat sektor hortikultura nasional sekaligus meningkatkan peluang ekspor.

Ia menekankan pentingnya forum berbagi pengetahuan seperti HortiEs Talk, agar pelaku dan peneliti mendapatkan wawasan mendalam mengenai pemuliaan anggrek Phalaenopsis tipe baru yang adaptif, bernilai tambah, dan berdaya saing global.

“Kita berharap dengan adanya HortiEs Talk ini peserta mendapatkan informasi dan pengalaman dari para narasumber yang ahli dibidangnya terkait pemuliaan anggrek Phalaenopsis tipe baru dengan harapan dapat dihasilkan inovasi varietas baru yang adaptif, memiliki nilai tambah dan meningkatkan peluang ekspor,” ungkap Puji.

Bagikan Insight Ini

Bantu kami menyebarkan kabar baik dan data menarik tentang Indonesia ke jaringan Anda.

Dibuat denganoleh
Logo GNFI
Good News From IndonesiaMakin Tahu Indonesia

Editor

Tim Redaksi GNFI

Penulis

Tim Redaksi GNFI

Desain & Visual

Tim Kreatif GNFI

Layout & Animasi

Techino GNFI
Diterbitkan pada03 Maret 2026