Logo GNFI

House of
Herbs,

Rumah yang “Disulap”
Menjadi Apotek Hidup

Sekilas, rumah tinggal Daniel Damaz tampak tak berbeda dari rumah penduduk di sekitarnya. Di tengah permukiman yang cukup padat di kawasan Bintaro, Kota Tangerang Selatan, tidak ada hal yang mencolok di sana.

Saat GNFI berkesempatan masuk, barulah satu hal menarik terlihat: Terdapat sebuah kebun penuh tanaman herbal di halaman belakang rumahnya.

Layaknya halaman belakang di permukiman padat, ukurannya memang tidak begitu luas. Meski demikian, tampak jelas keragaman tanaman di kebun milik Damaz yang seluruhnya ia rawat sendiri.

Sembari mengajak GNFI berkeliling, ia pun menunjukkan caranya menyediakan pupuk kompos sebagai salah satu kebutuhan utama untuk merawat tanaman-tanamannya. Memanfaatkan sisa-sisa makanan, ia mencampurnya dengan starter guna menghasilkan kompos.

"Benar-benar pakai kompos. Misal sisa dapur sayur-sayuran dan buah aku komposin," katanya.

Di kebun itulah, Damaz membangun dan mengelola House of Herbs. Sehari-hari, pria lulusan IPB University itu disibukkan dengan kegiatan merawat tanaman, juga memanen, mengolah, dan memanfaatkannya untuk keperluan pengobatan. Tak jarang pula kebunnya ramai oleh orang-orang yang datang untuk mengikuti workshop seputar cara berkebun herbal dan mengolah hasilnya.

House of Herbs, Gudangnya Aneka Tanaman Herbal

Bisa dibilang, House of Herbs adalah miniatur kekayaan tanaman herbal Indonesia. Di sana, tersimpan sebagian kecil dari banyaknya tanaman herbal yang dimiliki negeri ini.

House of Herbs

Kebun Tanaman Herbal di Tengah
Padatnya Kota

Lokasi

Berlokasi di Bintaro Sektor 9, Tangerang Selatan, Banten

Tanaman Herbal

Menyediakan puluhan jenis tanaman herbal dengan berbagai khasiat

Kegiatan

Punya berbagai kegiatan, mulai dari desain permaculture, pengolahan hasil tanaman herbal, hingga workshop

Indonesia diketahui memiliki 9.600 spesies tanaman berkhasiat, di mana 300 di antaranya telah dimanfaatkan sebagai bahan baku industri farmasi. Namun, potensi ini belum menjadikan Indonesia sebagai pemimpin pasar di negeri sendiri, terutama karena minimnya kepercayaan masyarakat terhadap konsumsi obat-obatan herbal.

Pemanfaatan tanaman herbal sendiri sejatinya lebih ekonomis jika dibudidayakan secara mandiri. Tinggal tanam, rawat, dan panen sesudahnya. Setelahnya praktik meracik obat yang diturun-temurunkan dari nenek moyang bisa diterapkan untuk menghemat biaya membeli ketersediaan obat-obatan kimia di rumah.

Spirit memberdayakan tanaman herbal sebagai obat-obatan alternatif untuk kehidupan sehari-sehari bisa dilihat dari inisiatif Damaz dengan House of Herbs-nya. Bermodalkan kebun kecil di rumah yang didesain permakultur, Damaz membudidayakan sejumlah tanaman herbal yang nantinya dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk keperluan medis tapi juga kuliner.

“Aku bikin kebun ini sebetulnya karena sekarang itu udah banyak orang-orang menanam sayur, buah-buahan, tetapi masih jarang orang-orang menanam herbal. Desain permaculture ini bagaimana kita bisa mendesain sebuah kebun yang lestari yang ekosistemnya saling berkaitan, kata Damaz saat dikunjungi GNFI beberapa waktu lalu.

Dengan permaculture, kebun jadi semakin ramai. Semakin banyak makhluk hidup yang hadir di sana.

Nggak Cuma hanya sekadar menanam tanaman, kita bisa membuat menghadirkan kupu-kupu, tanaman yang ada bunganya, supaya ekosistem di kebun itu bisa berlangsung,” kata Damaz lagi.

Ada sekitar 60-an tanaman herbal yang dibudidayakan Damaz sejauh ini di kebun House of Herbs-nya. Dari puluhan jenis, terdapat tanaman yang mudah dikenali orang Indonesia secara umum seperti jahe, bangle, kemuning, daun salam, dan pohon mengkudu.

Beberapa Tanaman Herbal
di House of Herbs dan khasiatnya

Jahe
Jahe

Mengatasi mual, meredakan nyeri otot/sendi, masuk angin, meningkatkan sistem imun, dan menurunkan gula

Bangle
Bangle

Antiinflamasi (anti-radang), antioksidan, antimikroba, dan analgesik (pereda nyeri)

Kemuning
Kemuning

Mengatasi infeksi saluran kemih, melancarkan menstruasi, mengurangi nyeri/radang, menurunkan berat badan, serta menghaluskan kulit

Daun Salam
Daun Salam

Menurunkan kolesterol, juga mengatasi diabetes, asam urat, dan hipertensi

Mengkudu
Mengkudu

Menurunkan tekanan darah tinggi, meredakan peradangan, mengatasi asam urat, dan meningkatkan daya tahan tubuh

GNFInsightwww.goodnewsfromindonesia.id

Damaz jelas memiliki visi dalam mendirikan sekaligus mempromosikan tanaman herbal melalui House of Herbs. Salah satunya ia ingin banyak orang sadar pentingnya menjaga kesehatan dengan memanfaatkan tanaman herbal yang mudah ditanam di pekarangan rumah.

“Harapanku dengan membangun kebun House of Herbs ini aku berharap bisa jadi inspirasi untuk anak-anak muda khususnya supaya kita bisa lebih aware dengan kesehatan kita, bisa mengenali diri kita, dan bisa tahu sebetulnya makanan dan minuman yang masuk ke tubuh kita sangat mempengaruhi kesehatan kita,” tutur Damaz.

Damaz pun mengajak orang-orang untuk ikut menanam tanaman herbal. Tujuannya jelas, agar setiap orang punya “apotek” di rumah.

“Aku berharap banyak orang juga yang nggak hanya sekadar menanam sayur, buah, tapi juga menanam tanaman obat untuk tubuhnya sendiri dan rumah-rumah setiap orang bisa bikin apotek di rumah sendiri,” lanjutnya.

Tanaman Herbal yang Tak Terlupakan di Lingkungan Urban

Keberadaan kebun tanaman herbal seperti House of Herbs di tengah padatnya kota sebenarnya bukan hal yang mengherankan. Sebab, nyatanya pemanfaatan tanaman herbal sendiri memang selalu punya tempat tersendiri di hati masyarakat.

Di lingkungan perkotaan, beragam fasilitas kesehatan mulai dari puskesmas hingga rumah sakit jelas tersedia, begitu pula dengan aneka obat-obatannya. Kendati demikian, masyarakatnya tak bisa lepas dari pengobatan tradisional yang memanfaatkan aneka tanaman herbal. Fenomena tersebut sebagaimana tercatat dalam penelitian bertajuk "Pengobatan Tradisional dan Modernitas Urban: Memaknai Ulang Resistensi" yang dipaparkan kepada publik pada 2023 lalu.

Hasilnya sungguh menarik. Guru Besar Universitas Indonesia (UI), Manneke Budiman, yang terlibat dalam penelitian mengungkap temuan bahwa lebih dari 50% masyarakat urban di 4 kampung lokasi riset di Jakarta dan Tangerang mengonsumsi obat tradisional atau herbal.

Pengobatan tradisional dengan memanfaatkan tanaman herbal diterapkan bersamaan dengan pengobatan modern. Keduanya bersifat saling melengkapi dan semuanya dimanfaatkan. Saat masyarakat memanfaatkan pengobatan herbal, itu tidak berarti mereka meninggalkan pengobatan modern, begitu pula sebaliknya.

Dari penelitian, diketahui pengobatan herbal digunakan untuk sakit-sakit ringan seperti flu, meriang, dan tidak enak badan. Jika sakit berlanjut, masyarakat baru akan pergi ke puskesmas atau klinik.

"Berarti masih ada kepercayaan yang cukup besar kepada khasiat obat tradisional," ujar Manneke dalam acara Public Lecture Series #2 yang digelar secara daring oleh Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Kamis, (27/4/2023).

Bagi masyarakat urban, penggunaan obat tradisional atau herbal merupakan strategi ketika mereka mengalami kesulitan mengakses fasilitas kesehatan modern. Namun, ketika mereka mampu untuk mengaksesnya, masyarakat juga akan tetap mengonsumsinya tanpa menyatakan penolakan.

"Masyarakat urban memiliki kesadaran akan kekurangannya, jadi jika susah untuk dapat obat modern maka akan memutar akal dengan menanam sendiri tanaman pengobatan herbal, untuk mengatasi masalah kesehatan," lanjut Manneke.

Tingkat kepercayaan masyarakat urban terhadap khasiat obat tradisional cukup tinggi, hampir sebanding dengan kepercayaan pada khasiat obat modern. Masyarakat kota pun punya pengetahuan yang cukup baik mengenai seluk-beluk obat dari tanaman herbal. Tak hanya khasiat, namun juga hingga efek sampingnya.

Pengetahuan yang dimiliki masyarakat bersumber dari para orang tuanya secara lisan. Hal ini juga membuat pengetahuan mengenai obat herbal dan cara menanamnya bisa lestari.

"Jadi pengetahuannya cukup baik walaupun tingkat pendidikannya tidak tinggi. Tapi karena pengalaman, cerita dari kiri-kanan, maka mereka tahu efek sampingnya," kata Manneke lagi.

Maka dari itu, Bintaro bisa dibilang beruntung karena punya House of Herbs. Di daerah urban nan padat tersebut, tanaman herbal yang menjadi bahan baku obat tradisional tidak perlu repot-repot dicari dan selalu tersedia apabila dibutuhkan.

Visual Preview

Galeri House of Herbs

Buka tiap frame untuk melihat kebun, bedeng, area semai, dan aktivitas perawatan yang membuat halaman rumah ini terasa seperti apotek hidup premium versi urban.

Deskripsi Foto

Kebun herbal di tengah permukiman

Sudut lebat yang memperlihatkan bagaimana halaman rumah disulap menjadi ruang tanam yang hidup dan padat manfaat.

Posisi frame01/11

Tanaman Herbal Mantap Khasiatnya, juga Cuannya

Untuk bisa dikonsumsi, tanaman herbal sudah tentu perlu diolah dulu. Namun, jangan khawatir proses pengolahannya rumit karena pengolahan tanaman herbal sebenarnya tidak begitu berbeda dengan tanaman lain seperti sayur-sayuran.

Damaz mengungkap, prosesnya pengolahan herbal sangat mudah. Hanya saja, tingkat kemudahannya tergantung pada jenis tanaman herbal apa yang ingin ditanam.

“Misalkan, kita mau menanam jahe. Jahe itu kan ada rimpangnya, jadi kita perlu cari atau membuat tanah yang gembur, supaya ketika jahenya tumbuh, rimpangnya juga membesarnya gampang,” katanya.

Bagi Damaz, kebun herbalnya di rumah ini bukan sekadar hobi. Ia paham betul manfaat dan khasiat besar yang dihasilkan dari tanaman-tanaman herbal.

Menurutnya, obat herbal menjadi alternatif yang sangat baik yang bisa dikonsumsi selain obat-obatan yang biasa dibeli di apotek. Mengonsumsi tanaman herbal bisa membuat seseorang menjadi lebih peduli dan sadar dengan kesehatannya sendiri.

“Contoh paling simple-nya, sekarang kan lagi musim hujan. Kita gampang flu, gampang batuk. Dan sebetulnya obat flu dan batuk itu nggak harus kita beli di apotek, tapi bisa ambil di kebun rumah sendiri,” ujarnya.

House of Herbs memang belum mengolah hasil tanaman herbal dalam skala besar. Akan tetapi, Industri obat herbal Indonesia memiliki potensi yang sangat menggiurkan. Kementerian Pertanian RI menyebut industri obat herbal nasional berpotensi menyumbang hingga Rp300 triliun bagi perekonomian Indonesia.

Ditambah lagi, tanah Indonesia yang subur memungkinkan tumbuhnya berbagai jenis tanaman herbal yang bisa dikembangkan, untuk kemudian diteliti dan menjadi solusi kesehatan berbasis sumber daya alam Indonesia. Di sisi lain, pengembangan obat-obatan berbasis bahan alam juga merupakan salah satu cara untuk mendukung swasembada pangan nasional. Potensi besar ini dibuktikan dengan tingginya permintaan dunia terhadap komoditas herbal Indonesia.

Data ini menunjukkan bahwa tanaman herbal Indonesia sangat dibutuhkan di dunia. Yang menarik, meskipun mayoritas pengimpor tanaman herbal berasal dari Asia, ada pula Amerika Serikat yang memiliki volume impor yang cukup besar.

Negara Tujuan Ekspor Tanaman Obat, Aromatik, dan Rempah-Rempah Indonesia

ContainerPesawat
Map
Kapal

Data 2024 | Sumber: BPS

GNFInsightwww.goodnewsfromindonesia.id

Masuknya herbal Indonesia ke pasar Amerika Serikat menandakan bahwa produk herbal Nusantara memiliki nilai tambah yang dihargai cukup mahal di pasar Barat. Potensi ini jelas harus dimanfaatkan dengan baik, mulai dari hulu hingga ke hilir, agar pemanfaatan tanaman herbal tidak hanya dapat dirasakan industri dan masyarakat Indonesia, tapi juga luar negeri.

Menanam Tanaman Herbal, Melestarikan Budaya

Disadari atau tidak, kegiatan menanam tanaman herbal seperti yang dilakukan Damaz bukan hanya soal bertani, memanfaatkan kekayaan alam untuk pengobatan, atau meraup keuntungan. Lebih dari itu, ada upaya pelestarian budaya di baliknya.

Mengapa demikian? Jawabannya karena jamu yang notabene salah satu produk utama dari tanaman herbal telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO pada tahun 2023. Penetapan bersejarah ini diresmikan dalam sesi sidang ke-18 Intergovernmental Committee for the Safeguarding of the Intangible Cultural Heritage yang berlangsung di Kasane, Republik Botswana.

Keberhasilan ini menjadikan jamu sebagai benda ke-13 dari Indonesia yang masuk dalam daftar warisan budaya UNESCO. Sebelumnya, Indonesia telah mencatatkan 12 WBTb lainnya, yaitu wayang (2008), keris (2008), batik (2009), pendidikan dan pelatihan membatik (2009), angklung (2010), tari saman (2011), noken (2012), tiga genre tari Bali (2015), kapal pinisi (2017), tradisi pencak silat (2019), pantun (2020), dan gamelan (2021).

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) saat itu, Nadiem Makarim, mengungkapkan kegembiraan dan rasa bangganya atas pengakuan dunia terhadap budaya sehat jamu.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada UNESCO yang telah menetapkan jamu sebagai Warisan Budaya Takbenda,” ucap Nadiem pada 2023 lalu.

Nadiem berharap penetapan ini dapat memperkuat upaya perlindungan dan pengembangan jamu di tanah air, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kesehatan global. Menurutnya, “Jamu sebagai salah satu warisan budaya Indonesia mewakili hubungan yang mendalam, bermakna, dan harmonis antara manusia dengan alam.”

Hilmar Farid yang saat itu menjabat sebagai Direktur Jenderal Kebudayaan menjelaskan bahwa jamu merupakan ramuan obat tradisional asli Indonesia yang berbahan alami. Selain untuk memelihara kesehatan, jamu juga berfungsi untuk kecantikan. Ia menekankan bahwa jamu adalah warisan ilmu pengetahuan yang jejaknya terdokumentasi dalam relief candi, primbon, prasasti, hingga kitab-kitab lama Nusantara.

“Kita pernah mengalami momen ketika kehidupan seperti benda pada titik terendah ketika pandemi melanda. Tapi ternyata, produk kebudayaan bernama jamu ini menjadi salah satu resep yang menyembuhkan, menguatkan dan menyatukan kita,” jelas Hilmar.

Sebagai warisan budaya, jamu sudah dikenal masyarakat Nusantara sejak masa lampau. Yuli Widiyastuti selaku Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Tradisional (PR BBOOT) BRIN memaparkan bahwa kata jamu berasal dari dua kata, yakni jampi dan usada atau Jawa dan ngramu. Budaya meracik jamu sendiri diperkirakan sudah ada sejak zaman Hindu-Buddha (abad 6-7), yang dibuktikan melalui berbagai relief candi. Sementara itu, istilah jampi ditemukan pertama kali dalam Kakawin Gatotkacasraya gubahan Empu Panuluh pada abad ke-15.

Pemanfaatan Tanaman Herbal untuk Jamu

Sudah ada sejak zaman baheula!

Masyarakat Nusantara sudah meracik jamu
sejak zaman
Hindu-Buddha
(abad 6-7)

Keluarga Kerajaan Mataram Kuno (Hindu-Buddha) memanfaatkan jamu untuk menjaga kesehatan

Jamu yang dikenal di Indonesia banyak dipengaruhi oleh
kultur pengobatan
Cina, India, dan Arab

Sumber: BRIN

Yuli menjelaskan bahwa pemanfaatan jamu mulanya terbatas untuk menjaga kesehatan keluarga kerajaan, khususnya di wilayah Surakarta dan Yogyakarta. Meski sejarah tertulisnya masih minim, jamu terus berkembang secara dinamis.

“Jamu yang berkembang sampai saat ini sangat kuat dipengaruhi oleh budaya pengobatan dari China, India, dan Arab yang tercermin dari sejumlah ramuan dengan bahan-bahan impor yang saat ini masih kita gunakan,” sebutnya.

Jamu Jadi Tren, Saatnya Tanaman Herbal Lebih Dikenal!

Aku berharap bisa jadi inspirasi untuk anak-anak muda khususnya, supaya kita sebagai anak anak muda bisa lebih aware dengan kesehatan kita. Kita bisa mengenali diri kita, dan juga bisa tahu bahwa sebetulnya makanan dan minuman yang masuk ke tubuh kita sangat mempengaruhi kesehatan kita.

Daniel Damaz

Pendiri House of Herbs

Tren yang lebih sadar kesehatan memang sedang ramai dijalankan oleh masyarakat, termasuk dalam hal konsumsi. Bukan lagi alkohol, mereka kini mengisi gelas dengan jamu.

One shot kunyit asam,” begitu katanya.

Dalam beberapa bulan terakhir, video anak muda minum jamu bersama di pinggir jalan atau halaman rumah ramai muncul di TikTok dan Instagram. Mereka memesan beberapa gelas bahkan botol jamu dari penjual keliling, lalu menikmatinya dengan berlagak seperti sedang meneguk segelas alkohol.

Fenomena itu kemudian dikenal dengan istilah party jamu atau open table jamu. Biasanya, jenis yang sering dipesan adalah beras kencur, kunyit asam, dan temulawak.

Beras kencur biasanya menjadi pilihan pertama bagi mereka yang baru mencoba jamu. Rasanya cenderung manis dengan aroma rempah yang lembut. Minuman ini dibuat dari beras yang direndam, kemudian dihaluskan bersama kencur, gula, dan kadang ditambah sedikit jahe. Dalam pengobatan tradisional, beras kencur dikenal membantu mengurangi rasa lelah dan pegal-pegal. Kencur mengandung senyawa alami yang bersifat antiinflamasi, yaitu zat yang dapat membantu meredakan peradangan di dalam tubuh. Karena rasanya ringan dan tidak terlalu pahit, jamu ini juga sering diberikan untuk membantu meningkatkan nafsu makan.

Berbeda dengan beras kencur, kunyit asam terasa lebih segar. Perpaduan kunyit dan asam jawa menghasilkan rasa asam manis yang ringan. Banyak orang memilih jamu ini karena mudah diminum, bahkan oleh mereka yang tidak terbiasa dengan jamu. Kunyit sendiri mengandung senyawa aktif bernama kurkumin. Senyawa ini dikenal sebagai antioksidan, yaitu zat yang membantu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Dalam tradisi jamu, kunyit asam juga sering diminum untuk membantu meredakan gangguan pencernaan dan mengurangi kram saat menstruasi.

Sementara itu, temulawak memiliki karakter yang berbeda. Warnanya lebih pekat dengan rasa sedikit pahit. Meski begitu, banyak orang percaya manfaatnya cukup besar bagi kesehatan. Temulawak mengandung senyawa aktif seperti xanthorrhizol, yang dikenal dapat membantu menjaga fungsi hati atau liver. Selain itu, temulawak juga sering dikonsumsi untuk membantu meningkatkan nafsu makan dan memperbaiki proses pencernaan. Hal ini berkaitan dengan kemampuannya merangsang produksi empedu, yaitu cairan yang membantu tubuh mencerna lemak dari makanan.

Tren ini membuat minuman tradisional yang dulu dianggap kuno kini justru menjadi simbol gaya hidup baru anak muda.

Yang menarik, ada juga yang memadukan jamu dengan konsep minuman modern. Misalnya mocktail jamu.

Istilah mocktail berarti minuman yang dibuat dengan teknik cocktail tetapi tanpa alkohol. Dalam tren ini, bahan jamu seperti kunyit atau jahe diolah dengan teknik minuman modern agar tampil lebih menarik.

Konsep mocktail jamu bahkan sudah diracik oleh Hotel Aston Sidoarjo sejak beberapa tahun lalu dengan nama Kahuripan Mocktail.

“Dikembangkan oleh Ivan, Food & Beverage Manager ASTON Sidoarjo yang telah berpengalaman lebih dari 10 tahun di dunia kuliner, Kahuripan Mocktail memadukan konsep jamu tradisional dengan teknik modern dalam penyajiannya. Minuman ini menggunakan bahan alami seperti jahe, kayu manis, cengkeh, dan kapulaga yang dikenal memiliki khasiat untuk menghangatkan tubuh dan meningkatkan daya tahan. Cocok dinikmati saat musim hujan atau ketika tubuh sedang kurang fit,” katanya, dikutip dari laman resmi Aston Hotels International.

Nah, apa yang dilakukan Damaz adalah memengaruhi dan mengajak agar masyarakat tidak hanya membeli, tapi juga bisa menyediakan bahan-bahan jamu itu di kebunnya sendiri.

“Dan aku berharap banyak orang juga yang tidak hanya sekedar menanam sayur, menanam buah, tapi juga menanam tanaman obat untuk tubuhnya sendiri. Dan berharap rumah-rumah setiap orang yang akhirnya mulai untuk bertanam herbal bisa bikin apotek di rumah sendiri,” pungkas Damaz.

Bagikan Insight Ini

Bantu kami menyebarkan kabar baik dan data menarik tentang Indonesia ke jaringan Anda.

Dibuat denganoleh
Logo GNFI
Good News From IndonesiaMakin Tahu Indonesia

Editor

Tim Redaksi GNFI

Penulis

Tim Redaksi GNFI

Desain & Visual

Tim Kreatif GNFI

Layout & Animasi

Techino GNFI
Diterbitkan pada13 Maret 2026