- Shin Tae-yong dan Tangan Dinginnya yang Mengubah Timnas Indonesia
- Shin Tae-yong Melatih Timnas Indonesia sejak 2019
- Pengalaman Panjang Shin Tae-yong di Dunia Sepak Bola
- Fisik dan Disiplin, Fokus Shin Tae-yong di Timnas Indonesia
- Di Tangan Shin Tae-yong, Kini Timnas Indonesia Tak Seperti Dulu
- Shin Tae-yong Perpanjang Kontrak, Selanjutnya Apa?

Shin Tae-yong dan Tangan Dinginnya yang Mengubah Timnas Indonesia
Bagi para penikmat sepak bola Indonesia, nama Shin Tae-yong tentu tidak asing. Bahkan, bisa dibilang saat ini ia adalah sosok paling beken di kancah bal-balan negeri ini.
Shin memang sedang naik daun. Kiprahnya sebagai pelatih Timnas Indonesia telah melambungkan namanya sekaligus membuat masyarakat jadi begitu antusias terhadap kiprah tim besutannya. Di bawah kepelatihan pria asal Korea Selatan itu, Timnas Indonesia mampu menampilkan performa yang ciamik, juga pencapaian-pencapaian yang terasa begitu sulit diraih sebelum ia datang.
Bagi suporter Timnas Indonesia, Shin bagai penyelamat yang membawa tim keluar dari kegelapan. Kini, ia pun sudah menuntaskan periode pertama kepelatihannya di tim Merah-Putih seiring dengan kontraknya yang belum lama ini diperpanjang.
Sejak pertama kali datang, Shin telah merasakan berbagai dinamika di tim, membawa berbagai perubahan, dan kini ia pun menyongsong kelanjutan perjalanannya di Timnas Indonesia
Shin Tae-yong Melatih Timnas Indonesia sejak 2019

Akhir 2019 adalah lembaran sejarah baru bagi sepak bola Indonesia sekaligus karier Shin Tae-yong. Ia resmi diperkenalkan oleh Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) sebagai pelatih Timnas Indonesia di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor pada Sabtu, 28 Desember 2019 sore.
Saat itulah, Shin menandatangani kontrak, juga menerima jersi dan jaket yang secara simbolis menandai bahwa perjalanannya di Indonesia resmi dimulai. Dalam kontrak tersebut tercatat, Shin diplot untuk menjalankan projek jangka panjang dengan durasi kerja sama selama empat tahun hingga akhir 2023, yang mana kemudian kontrak itu diberi perpanjangan singkat selama enam bulan lantaran Piala Asia 2023 diputuskan digelar pada Januari 2024.
Kedatangan Shin tentu bukan hal yang tiba-tiba. Para petinggi PSSI rupanya telah lama menimbang sosoknya sebagai salah satu kandidat pelatih Indonesia. Sebelum akhirnya memilih Shin, ada beberapa nama yang juga digadang-gadang bakal menduduki kursi pelatih Indonesia, mulai dari Luis Milla, Rahmad Darmawan, hingga Widodo Cahyono Putro.
Saat Shin diumumkan sebagai pelatih Indonesia, publik pun heboh. Bagaimana tidak, ia adalah pelatih yang punya rekam jejak mentereng. Pada 2018 saja, Shin pernah menyita perhatian lantaran membawa Korsel mengalahkan raksasa sepak bola dunia, Jerman dengan skor 2-0 di Piala Dunia.
“Shin Tae-yong telah dipilih Komite Eksekutif PSSI dengan berbagai pertimbangan dan masukan dari Departemen Teknik PSSI serta sejumlah pelatih," ujar Ketua Umum PSSI saat itu, Mochamad Iriawan alias Iwan Bule.










Sejak saat itulah, Shin mengemban amanah untuk membangun tim sepak bola Indonesia yang solid dan berprestasi. Beberapa tugas awal yang harus dijalankannya saat pertama kali melatih Indonesia di antaranya adalah mempersiapkan tim untuk Kualifikasi Piala Dunia 2022, Piala AFF. Tak hanya di tim senior, Shin juga membesut timnas level U-16 dan U-19 guna menyambut Piala Asia.
Pengalaman Panjang Shin Tae-yong di Dunia Sepak Bola
Shin datang dengan pengalaman panjang di dunia sepak bola. Sebagaimana pelatih pada umumnya, ia mengawali kariernya sebagai pemain sebelum kemudian beralih menjadi pelatih.
Shin meniti karier sebagai pemain profesional di klub Ilhwa Chunma selama 12 musim. Di lapangan, sosok kelahiran Yeongdeok, Korsel, pada 11 April 1970 itu biasa menempati posisi gelandang serang.
Karier Shin di Ilhwa Chunma cukup moncer. Ia pernah menjadi pemain kunci untuk ketika klub yang kini telah berganti nama menjadi Seongnam FC itu menjuarai K-League selama tiga tahun berturut-turut pada 1993-1995. Di level internasional, Shin juga turut membantu klubnya menjuarai Asian Club Championship pada 1995.
Tercatat, ia mengoleksi enam gelar juara K-League sebagai pemain Ilhwa Chunma. Selain itu, ada pula sederet gelar lainnya mulai dari Piala FA Korea, Piala Liga Korea, hingga Piala Super Korea. Secara individu, Shin juga pernah meraih penghargaan pemain muda terbaik K-League pada 1992. Lalu pada 1995 dan 2001, ia menjadi pemain terbaik alias MVP di K-League.
Lama bermain di Ilhwa Chunwa membuatnya bisa saja menjadi one-club man, tetapi di pengujung karier bermainnya ia memilih hijrah ke Australia untuk membela Brisbane Roar di A-League. Shin lalu pensiun bermain pada tahun 2005 karena memiliki masalah dengan pergelangan kaki. Dia dianggap sebagai salah satu pemain K-League terbaik sepanjang masa, dan pernah terpilih masuk ke dalam K-League 30th Anniversary Best XI pada 2013.















Selepas bermain, Shin mulai melatih pada 2009 sebagai pelatih interim di klub lamanya yang telah bernama Seongnam Ilhwa Chunwa. Ia mengantar tim ke peringkat kedua di K League dan Piala FA Korea 2009, meskipun saat itu timnya sedang mengalami kekurangan dana. Lalu, ia pun mempersembahkan gelar juara Liga Champions Asia 2010 dan Piala FA Korea 2011. Shin sekaligus menjadi orang pertama yang memenangkan Liga Champions Asia sebagai pemain dan pelatih.
Pada 2014, Shin didapuk sebagai asisten pelatih Timnas Korea Selatan. Di bawah Shin, Korsel mencapai final Piala Asia 2015 untuk pertama kalinya dalam 27 tahun. Pada saat yang sama, ia juga menangani Timnas Korsel U-23, hingga dipromosikan sebagai pelatih kepala di tim senior pasukan Taeguk Warriors pada 2017.
Saat memimpin Timnas Korsel di Piala Dunia 2018, timnya secara mengejutkan bisa mengalahkan Jerman walau kalah dari Swedia dan Meksiko. Sayangnya, sebuah pengalaman tak mengenakkan sempat didapatnya kala itu, di mana Shin dan pemain Korsel dilempari telur oleh sekelompok fans yang kecewa saat baru tiba di Bandara Incheon sepulangnya dari Rusia. Untuk diketahui, melempar telur merupakan tradisi masyarakat Korsel untuk meluapkan kekecewaan ke politisi atau pelaku kriminal.
Siapa sangka, insiden pelemparan telur itu sekaligus menjadi akhir kebersamaan Shin dengan timnas negaranya. Setelahnya, tibalah sejarah baru dengan dipinangnya sang pelatih oleh Indonesia.
Fisik dan Disiplin, Fokus Shin Tae-yong di Timnas Indonesia
Baru juga datang di Indonesia, sederet tugas langsung menanti Shin. Terlebih, Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2021 sehingga PSSI mendorong Shin agar Indonesia bermain sebaik mungkin di ajang besar tersebut.
"Target objektifnya adalah mempersiapkan timnas Indonesia yang akan tampil di Piala Dunia U-20 pada tahun 2021, di mana Indonesia menjadi tuan rumah," kata Iwan Bule waktu itu.
Tugas yang diemban Shin jelas tak mudah karena tim nasional sedang dalam kondisi terpuruk. Sebagai gambaran, Indonesia hanya bisa 2 kali menang dan harus menelan 5 kekalahan dari 7 laga saat dibesut oleh Simon McMenemy, pelatih Indonesia sebelum Shin. Kemenangan yang didapat pun hanya atas tim sekelas Myanmar dan Vanuatu.
Di tengah tugas berat yang baru mulai dikerjakan, persoalan pelik hadir: pandemi Covid-19 melanda dunia. Alhasil, program pemusatan latihan yang sudah disusun serta rencana keikutsertaan di sejumlah turnamen pun berantakan semua.
Butuh beberapa bulan hingga Shin mampu mengumpulkan pemain dan menggelar pemusatan latihan, baik itu Timnas Indonesia senior maupun kelompok usia. Namun berhubung pandemi belum reda, pemusatan latihan itu tentu saja jauh dari maksimal. Tak sedikit masalah yang menghantui, mulai dari penundaan jadwal latihan, pemain yang tak lengkap, hingga adanya beberapa orang yang positif Covid-19, termasuk Shin sendiri.









Seiring berjalannya waktu dan berangsur-angsur terkendalinya pandemi, Shin baru mulai bisa melatih timnya secara lebih maksimal. Ia pun punya menu utama yang tak pernah ketinggalan diberikan kepada pemain dalam setiap pemusatan latihan: Latihan fisik yang sangat keras.
Sejak awal, Shin memang menyoroti kondisi fisik pemain Indonesia. Baginya, fisik yang prima adalah hal mendasar yang wajib dimiliki setiap pesepak bola, dan sayangnya para pemain Indonesia belum memilikinya.
"Kalau kita memberikan pendidikan dari level U-16, U-19, U-22, itu akan membentuk dasar yang kuat agar tim tersebut tidak runtuh dengan mudah. Kemampuan masing-masing pemain Indonesia cukup bagus. Masalahnya pemain Indonesia setelah babak kedua menit ke-65 ke atas ada masalah di fisik. Kami akan cari solusi, fisik harus kuat dan mental juga tentu," tutur Shin.
Selain fisik prima, disiplin tinggi juga jadi hal yang dituntut Shin dari para pemain. Acap diketahui, pemain Indonesia punya kedisiplinan yang kurang, dan ini terlihat dari berbagai perilakunya seperti terlambat latihan, makan sembarangan, hingga tak mengikuti jadwal kegiatan yang sudah ditetapkan.
Shin menerapkan disiplin tinggi ala Korea. Selama bertahun-tahun, standar tinggi soal kedisiplinan itu tidak pernah diturunkan hingga seakan jadi seleksi alam bagi para pemain. Bagi pemain yang berkomitmen disiplin, ia akan bertahan. Sebaliknya, pemain yang tidak disiplin bakal tersingkir. Sejauh ini, sudah ada sederet pemain yang didepak Shin dari skuad gara-gara tersandung kasus indisipliner.
Di Tangan Shin Tae-yong, Kini Timnas Indonesia Tak Seperti Dulu
Ada perbedaan besar antara Timnas Indonesia di bawah asuhan Shin saat ini dibandingkan dengan saat dilatih oleh pelatih-pelatih sebelumnya. Perbedaan paling jelas terlihat adalah pencapaian di turnamen-turnamen besar.
Tahun 2024 ini adalah masa di mana pencapaian Indonesia mencapai puncaknya dalam berdekade-dekade terakhir. Dengan tangan dinginnya, Shin membawa Indonesia ke perempat final Piala Asia 2023, semifinal Piala Asia U-23 2024, dan putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Hasil itu itu didapat seiring dengan turut performa tim di lapangan yang juga berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Untuk membahas hal ini, GNFI berkesempatan untuk berbincang dengan wartawan senior, komentator, sekaligus pengamat sepak bola nasional, Weshley Hutagalung. Menurutnya, permainan Indonesia era Shin punya keunggulan berupa ketenangan dan efisiensi saat memainkan bola.
"Jarang kita lihat kesalahan-kesalahan elementer. Lalu ketenangan di dalam karakter mereka bermain sebagai tim nasional itu terlihat bahwa kita jarang melakukan pelanggaran yang tidak penting, (juga) protes-protes tidak penting." ujar Weshley.
Meski punya kelebihan, performa Indonesia di bawah asuhan Shin juga tak sempurna. Weshley menilai jika fisik pemain masih belum maksimal sehingga ini jadi kendala untuk menerapkan gameplan secara optimal, terlebih saat jadwal pertandingan sedang padat.
"Secara permainan, efektivitas bermain itu memang terlihat. Tetapi, fisik kita tidak bisa bermain untuk 5 atau 6 pertandingan beruntun." lanjut Weshley.









Selain berkat tangan dingin Shin, pencapaian dan performa ciamik Indonesia saat ini juga tidak bisa dilepaskan dari komposisi pemain yang juga mumpuni. Ini pula yang jadi pembeda antara timnas era Shin dengan pelatih-pelatih sebelumnya.
Sejak awal kedatangannya, Shin merombak skuad Timnas Indonesia senior dengan tak lagi memanggil para pemain kawakan dan menggantinya dengan darah-darah muda. Nama-nama seperti Rachmat Irianto, Yakob Sayuri, hingga Witan Sulaeman dipercaya tampil dalam laga-laga internasional.
Bertumpu kepada pemain muda seakan jadi karakter Shin. Selama bertahun-tahun, wajah-wajah muda nan segar senantiasa menghiasi skuad Indonesia. Bahkan di ajang sebesar Piala Asia 2023, sang ahjussi membawa rombongan pemain dengan usia rata-rata hanya 24,33 tahun, yang sekaligus membuat Indonesia menjadi tim kontestan dengan usia termuda.
Selain didominasi pemain muda, ada lagi satu hal yang membuat timnas besutan Shin terlihat berbeda dari era sebelum-sebelumnya, yakni ramainya pemain diaspora alias mereka yang keturunan Indonesia tetapi lahir dan besar di luar negeri. Ini tak lepas dari program PSSI yang secara masif mencari pemain berdarah Indonesia di berbagai belahan dunia, lalu mengajak mereka untuk menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) dan membela timnas.
Dengan cara ini pula Shin mendapatkan pemain yang dibutuhkannya untuk memperkuat skuad. Banyak dari pemain tersebut yang terbukti mampu berperan penting bagi tim, meski ada juga yang justru tersisih seperti Elkan Baggott.
Performa apik Indonesia dan keberadaan pemain diaspora dinilai berkaitan erat. Seperti disampaikan Weshley, pemain diaspora jelas berkontribusi besar. Namun di sisi lain ia berpendapat bahwa Shin tidak bisa terus-terusan mengandalkan pemain dari luar negeri untuk mendongkrak performa timnas.
Menurut pria yang kerap jadi komentator di siaran pertandingan timnas itu, mengandalkan pemain diaspora terus-terusan bisa membawa kesulitan bagi Shin karena butuh waktu untuk membangun chemistry di antara mereka yang punya asal dan latar belakang berbeda-beda. Oleh karena itu, Weshley menekankan bahwa yang terpenting bagi PSSI adalah memiliki kompetisi berjenjang agar lahir pemain-pemain berkualitas untuk timnas untuk jangka panjang.
"Untuk proyek mercusuar, trigger untuk mengangkat latihan sepak bola, oke. Tetapi tidak boleh keterusan karena kita harus membangun sendiri pondasi di kompetisi berjenjang." papar Weshley.
"Kita Liga 1 saja belum terlalu diperhatikan, Liga 2 apalagi, Liga 3 lebih parah lagi. Sumber pemain kita kan akan dari situ, bukan dari diaspora yang terus-terusan kita ambil," ucapnya menambahkan.
Shin Tae-yong Perpanjang Kontrak, Selanjutnya Apa?
Shin kini adalah pelatih idola pecinta sepak bola Indonesia. Meski ada beberapa pihak yang kerap berkomentar negatif terhadap kiprahnya di Indonesia, dapat dikatakan Shin sangat didukung oleh suporter.
Saat kontrak Shin segera habis pada 30 Juni 2024, suporter mendesak PSSI untuk memperpanjangnya. Untungnya, PSSI resmi mengumumkan perpanjangan kontrak sang pelatih hingga 2027 mendatang.
Kontrak baru, targetnya juga baru. Shin diminta membawa Indonesia masuk ke posisi 100 besar peringkat FIFA. Target itu diberikan setelah ia sukses membawa Indonesia naik peringkat cukup tinggi. Dari yang tadinya hanya bertengger di posisi 170-an, kini sudah berada di posisi 130-an.
Terkait target berpendapat bahwa ada lagi hal yang dinilai patut dijadikan target untuk Shin, yakni trofi. Menurut Weshley, raihan trofi di level Asia Tenggara bakal jadi jawaban atas semua keraguan dan pandangan negatif yang selama ini menyertai kiprah Shin di Indonesia.









"Paling tidak dia harus punya dua target. Pertama, Timnas Indonesia berbicara di tingkat Asia. Kedua, menghadirkan satu gelar dari Asia Tenggara. Ini akan membuat semua keraguan terhadap STY, yang kontra, yang tidak setuju, itu akan berbeda arahnya nanti." tutur Weshley.
Di level Asia, Shin telah membawa Indonesia melaju ke fase gugur Piala Asia 2023, pencapaian yang baru pertama kali diraih Indonesia. Lalu, ia akan punya kesempatan lagi untuk meraih pencapaian lebih tinggi di Piala Asia 2027. Sedangkan di level Asia Tenggara, akan ada ASEAN Championship (sebelumnya bernama Piala AFF) pada akhir 2024 mendatang, turnamen yang bisa dimanfaatkan Shin untuk meraih trofi.
Sejauh ini, Shin sudah dua kali mengantarkan Indonesia berlaga di Piala AFF, namun belum berhasil juara. Khusus tahun ini, Shin punya kesempatan lagi, namun tantangannya adalah waktu penyelenggaraan ASEAN Championship yang mepet dengan putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Untuk itu, Weshley berpendapat bahwa Shin perlu membuat dua tim untuk turun di dua ajang tersebut.
"Dia harus pintar membaginya. Siapa yang turun di ASEAN Championship, siapa yang akan turun di kualifikasi putaran ketiga. Tidak mungkin klub Eropa akan kasih (lepas pemain) terus." pungkasnya.